Home / Pemerintahan

Senin, 29 Juni 2026 20:53- WIB

IGS 2026 Sukses Digelar, Delapan Negara Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Makassar

MAKASSAR, Merata.Net — Kesuksesan penyelenggaraan Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Kota Makassar tak hanya memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada dunia, tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas.

Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah (Setda) Kota Makassar, Andi Zulfitra Dianta, mengatakan penjajakan yang dilakukan memang belum sampai pada tahap penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Namun, antusiasme para delegasi menunjukkan besarnya ketertarikan terhadap berbagai potensi yang dimiliki Kota Makassar, dan daerah lain di Sulsel.

“Forum IGS 2026 ini menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi dan kerja sama yang lebih konkret di masa mendatang. Ada sekitar delapan negara membangun komunikasi dan kedepan tertarik untuk kerjasama,” ujarnya, Senin (29/6/2026).

“Sebenanrya, banyak delegasi melihat Makassar memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama,” lanjutanya.

Forum yang berlangsung pada 25–26 Juni 2026 itu dihadiri 41 delegasi dari 28 negara. Dari pertemuan tersebut, sedikitnya delapan negara menyatakan ketertarikan menjajaki kerja sama strategis dengan Pemerintah Kota Makassar melalui skema sister city, investasi, pendidikan, perdagangan, hingga pertukaran budaya.

Delapan negara tersebut yakni Kosta Rika, Fiji, Polandia, Malaysia, Kamboja, Ukraina, Tunisia, dan Belanda.

Lebih lanjut, Andi Zulfitra menjelaskan, masing-masing negara menunjukkan minat kerja sama pada sektor yang berbeda sesuai dengan keunggulan dan kebutuhan masing-masing.

Delegasi Kosta Rika, misalnya, menawarkan peluang kolaborasi dalam bidang kesiapsiagaan bencana.

Negara tersebut memiliki pengalaman panjang dalam membangun sistem mitigasi bencana melalui pendekatan multipihak yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat.

“Kolaborasi lewat penjajakan ini, relevan bagi Makassar sebagai kota pesisir yang terus memperkuat sistem ketahanan terhadap berbagai potensi bencana,” tuturnya.

Sementara itu, delegasi perwakilan Fiji menunjukkan ketertarikan terhadap produk palm sugar (gula aren atau gula semut) yang diproduksi UMKM di Sulawesi Selatan.

Ketertarikan tersebut berkaitan dengan upaya negara Fiji mencari alternatif pemanis yang lebih sehat untuk membantu menekan tingginya angka penderita diabetes di negaranya.

“Produk gula aren asal Sulawesi Selatan, memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor bernilai tambah,” ungkapnya.

Di sektor pendidikan, delegasi Polandia membuka peluang kerja sama melalui penguatan hubungan akademik, pertukaran pelajar dan dosen, riset bersama, hingga penyediaan akses beasiswa.

Selain itu, negara tersebut juga mendorong pertukaran budaya melalui pengenalan literatur dan kebudayaan Polandia kepada masyarakat Indonesia.

Sedangkan, Untuk Tunisia, pembahasan lebih diarahkan pada peluang perdagangan komoditas, khususnya kurma, serta penjajakan investasi melalui pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Kurma merupakan salah satu komoditas dengan permintaan tinggi di pasar Indonesia sehingga membuka peluang kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan.

Baca Juga  Aliyah Mustika Ilham: Gerakan Pangan Murah Bantu Masyarakat Dapatkan Sembako Terjangkau

Sementara dengan Malaysia, pembahasan difokuskan pada pertukaran budaya (cultural exchange) serta promosi sektor pariwisata.

Delegasi Malaysia menilai Makassar memiliki kekayaan budaya dan destinasi wisata yang potensial untuk dipromosikan melalui berbagai program kolaboratif.

“Tren wisata global yang kini mengarah pada pengalaman autentik dinilai menjadi peluang besar bagi Makassar untuk menawarkan wisata berbasis budaya, sejarah, hingga kuliner,” beber Andi Zulfitra.

Adapun dengan pembahasan dengan Ukraina, penjajakan kerja sama lebih diarahkan pada hubungan persahabatan antarkota sebagai bentuk penguatan hubungan internasional dan dukungan moral di tengah situasi yang masih dihadapi negara tersebut.

Sedangkan bersama Belanda, Pemerintah Kota Makassar menjajaki peluang kerja sama pengembangan urban farming.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, Pemkot Makassar menyampaikan harapan agar dapat difasilitasi tenaga ahli (expert) dalam pengembangan pertanian modern, khususnya budidaya tomat berbasis teknologi sebagaimana yang diterapkan di Belanda.

Selain itu, juga dibahas peluang membangun kerja sama sister city dengan salah satu kota di Belanda.

“Belanda sendiri dikenal sebagai salah satu negara terdepan di dunia dalam pengembangan pertanian presisi dan urban farming yang mampu menghasilkan produktivitas tinggi di lahan terbatas,” katnaya.

Menurut Andi Zulfitra, penyelenggaraan Indonesia Gastrodiplomacy Series membuktikan bahwa diplomasi melalui kuliner mampu menjadi instrumen efektif untuk memperkuat hubungan internasional.

Gastrodiplomasi tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan cita rasa Indonesia kepada dunia, tetapi juga membuka ruang kolaborasi pada berbagai sektor strategis seperti perdagangan, investasi, pendidikan, kebudayaan, pariwisata, hingga pembangunan perkotaan.

Ditambahkan, Indonesia Gastrodiplomacy Series menjadi jembatan yang mempertemukan pemerintah daerah dengan para mitra internasional.

“Harapannya, komunikasi yang telah terbangun ini dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi pembangunan Kota Makassar,” tutupnya.

Pada hajatan IGS 2026, Pemerintah Kota Makassar berhasil membukukan 37 peluang bisnis (business lead) dari perwakilan diplomatik negara yang hadir.

Capaian tersebut diraih melalui sesi Business Forum dan Business-to-Business (B2B) Matching yang mempertemukan 20 perusahaan dan UMKM lokal dengan para delegasi asing.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Makassar, Muhammad Mario Said, mengatakan hasil tersebut menjadi bukti bahwa forum diplomatik yang digelar Pemerintah Kota Makassar mampu membuka akses pasar internasional sekaligus menarik minat investor terhadap potensi daerah.

“Dari hasil business matching yang difasilitasi DPMPTSP, tercatat 37 peluang bisnis dari 13 negara. Bahkan, empat sampai 8 negara di antaranya telah menunjukkan prospek yang sangat konkret menuju kerja sama bisnis,” ujar Mario.

Baca Juga  Dongrak Ekonomi Industri Wisata, Dispar Kota Makassar Garap Bisnis MICE

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian IGS 2026 bertema “Diplomasi Maritim: Menyatukan Dunia, Menjaga Perdamaian”, yang diikuti delegasi dari 31 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan 10 negara sahabat.

Dari puluhan peluang bisnis yang tercatat, terdapat empat kerja sama prioritas yang kini memasuki tahap penjajakan lanjutan.

Di antaranya pengembangan kopi dan jaringan coffee shop di Fiji oleh Kopi Leluhur, rencana joint venture industri gula aren antara PT Clemira Sukses Bersama dengan mitra Fiji, transaksi produk fesyen Zaini Hijab Makassar dengan pembeli asal Nigeria yang berlanjut ke pembahasan nota kesepahaman (MoU).

Serta penjajakan ekspor produk perikanan PT Manara Atha Samudera ke Tunisia. Produk kopi asal Sulawesi Selatan menjadi komoditas yang paling banyak diminati para delegasi.

“Produsen seperti TOARCO Jaya, Kopi Leluhur, Kandora Coffee, dan Kopi Setia menarik perhatian perwakilan Filipina, Ukraina, Venezuela, Fiji, Laos, Kuba, hingga Tunisia,” jelas Mario.

Selain itu, delegasi Ukraina bahkan menyampaikan minat untuk mengimpor green coffee bean dan meminta informasi lebih lanjut agar dapat diteruskan kepada para importir di negaranya.

Juga kopi, komoditas rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, dan kapulaga juga mendapat respons positif dari delegasi Ethiopia, Meksiko, Nigeria, dan Tunisia.

Produk seafood serta fesyen lokal berbasis budaya Makassar turut diminati, bahkan salah satu transaksi pembelian fesyen dilakukan langsung oleh delegasi Nigeria selama forum berlangsung.

Mario menyampaikan bahwa, dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, turut mempromosikan proyek pembangunan Stadion Untia sebagai kawasan sport tourism baru di Indonesia Timur.

“Proyek Stadion Untia dirancang menjadi pusat penggerak ekonomi baru di Indonesia Timur,” tuturnya.

“Ini bukan hanya pengembangan fasilitas olahraga berstandar internasional, tetapi juga menciptakan kawasan komersial baru yang menggerakkan ekonomi daerah,” lanjutanya.

Selain forum bisnis, Pemkot Makassar juga menggelar pertemuan bilateral dengan delegasi dari Kamboja, Polandia, Kosta Rika, Fiji, Ukraina, Pakistan, Malaysia, Belanda, dan Tunisia.

Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama di bidang investasi, perdagangan, pariwisata, pendidikan, hingga penjajakan program Sister City.

Sebagai tindak lanjut, DPMPTSP Kota Makassar akan menyerahkan kompilasi empat peluang bisnis prioritas kepada Kementerian Luar Negeri RI untuk diteruskan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Fiji, Nigeria, dan Tunisia.

“Para pelaku usaha juga diminta segera mengirimkan katalog, profil perusahaan, serta sampel produk kepada calon mitra sebelum 1 Juli 2026 guna mempercepat realisasi kerja sama yang telah terjalin,” tukasnya. (*)

Share :

Baca Juga

Pemerintahan

Masyarakat Kulo Sidrap Sambut Pj Gubernur dengan Mappadendang dan Mattojang

Pemerintahan

Wawali Aliyah: Perlindungan Sosial Pekerja Rentan Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Pemerintahan

Dinas Kesehatan Sulsel Siapkan Ambulans dan Tim Medis di Posko Operasi Ketupat 2026

Pemerintahan

DPK Sulsel Gelar Festival Aksara Lontaraq dan Pameran Perpustakaan

Pemerintahan

Pemkot Makassar Serius Hadirkan Sekolah Rakyat di Pulau

Pemerintahan

Sempat Mangkrak Tiga Tahun, Gubernur Andi Sudirman Resmikan Masjid Kubah 99 Asmaul Husna

Pemerintahan

Perjanjian Kinerja 2026, Munafri Targetkan Pelayanan Publik Lebih Cepat dan Terintegrasi

Pemerintahan

Kondisi Mulai Membaik, Ortu Bayi Korban Busur : Terima Kasih Bantuannya Pak Gubernur Andi Sudirman