Beijing, Merata.Net – Negara China kini dalam keadaan dilanda gelombang panas ekstrem. Fenomena ini dilaporkan menyebar di separuh wilayah China bahkan di dataran tinggi Tibet yang biasanya memiliki cuaca dingin.
Suhu tertinggi di China sempat mencapai lebih dari 40 derajat celsius. Salah satunya di Chongqing, Sichuan yang mencapai 45 derajat celcius. Ini merupakan suhu tertinggi yang pernah terjadi di China.
Akibat dari gelombang panas ini, ketinggian air di beberapa sungai dan waduk China semakin turun. Selain itu, pabrik-pabrik tutup karena kekurangan listrik. Tak sedikit pula tumbuhan telah rusak akibat kekeringan ini.
Sebagai informasi, pembangkit listrik tenaga air melemah akibat tingkat air yang semakin rendah. Hampir 80 persen listrik di China berasal dari pembangkit tenaga air.
Akibatnya, perkantoran dan pusat perbelanjaan diminta mengurangi penerangan dan pendingin ruangan untuk menghemat listrik. Situasi ini berpotensi berdampak di seluruh dunia, menyebabkan gangguan lebih lanjut pada rantai dan memperburuk krisis pangan global.
Sejarawan cuaca Maximiliano Herrera, mengatakan gelombang panas China kali ini tercatat merupakan yang terparah dari negara manapun dalam sejarah.
“Ini menggabungkan intensitas paling parah dengan suhu paling ekstrem di area yang sangat luas secara bersamaan. Tidak ada dalam sejarah iklim dunia yang sebanding dengan apa yang terjadi di China,” kata Herrera dalam keterangan tertulis, melansir dari New Scientist, Jumat (26/8/2022).
Kekeringan yang memecahkan rekor telah menyebabkan beberapa sungai di Tiongkok, termasuk bagian dari Yangtze yang mengering, memengaruhi tenaga air, menghentikan pengiriman, dan memaksa perusahaan-perusahaan besar untuk menangguhkan operasi.
Kekeringan di barat daya Tiongkok yang berpenduduk padat diperkirakan akan berlanjut hingga September. Hilangnya aliran air ke sistem pembangkit listrik tenaga air Tiongkok yang luas telah memicu “situasi serius” di Sichuan. Kota Sichuan mendapatkan lebih dari 80% energinya dari pembangkit listrik tenaga air.
Pekan lalu provinsi itu menghentikan atau membatasi pasokan listrik ke ribuan pabrik dan menjatah penggunaan listrik publik karena kekurangan tersebut. Toyota, Foxconn dan Tesla termasuk di antara perusahaan yang dilaporkan telah menghentikan sementara operasi di beberapa pabrik selama dua minggu terakhir. (*)










