Home / Indonesiaku

Senin, 20 Desember 2021 23:23- WIB

Curhat Warga : Belum Ada Solusi Nyata Soal Banjir di Perumnas Antang

Banjir di Perumnas Antang, foto diabadikan 25 Desember 2020. ©erickdidu

Banjir di Perumnas Antang, foto diabadikan 25 Desember 2020. ©erickdidu

MAKASSAR, MERATA.NET- Baru-baru ini beberapa wilayah di Kota Makassar terdampak bencana banjir. Salah satu wilayah yang terdampak di Perumnas Antang Blok 8 dan Blok 10 Kecamatan Manggala, Makassar. Tinggi air di wilayah ini setinggi satu meter lebih.

Dari pantauan di lokasi, Senin (20/12/2021). air sudah surut dan warga sudah mulai beraktivitas kembali.

Iksan (55) salah satu warga setempat yang ditemui di rumahnya mengakui saat bencana banjir melanda Perumnas Antang khususnya blok 8 pada Senin (6/12/2021) lalu, tinggi air mencapai hidung orang dewasa.

“Tinggi airnya kemarin di rumah saya sampai di hidung,” kata Iksan.

Saat banjir terjadi, Dia mengatakan jika dirinya dan keluarganya serta warga di blok 8 mengungsi di Masjid Mutaqqien Perumnas Antang.

“Karena dikatakan banjir ini sudah rutinitas hampir tiap tahun kita dapat musibah banjir begini jadi kebetulan diarea kami ini ada masjid yang lokasinya cukup tinggi jadi kami warga di sini rata-rata ngungsi di masjid,” tuturnya.

Untuk perabotnya, ia simpan ditempat yang lebih aman dan dibuat khusus dibagian plafon rumahnya, pasalnya ia dan warga lainnnya sudah tahu jika air akan naik dan akan terjadi banjir. Sehingga perabot sudah diamankan lebih dulu.

“Kami disini seperti ada insting, jadi misalkan got saya kering dan kalau air sudah mengalir berarti akan ada serangan banjir dari rawa-rawa yang lokasinya berada dibelakang rumah,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengatakan jika bencana banjir yang terjadi di tempat tinggalnya tak selamanya diakibatkan oleh air hujan.

“Jadi kita disini tidak berpatokan dari hujan saja kadang terik mata hari sering terjadi banjir juga. Airnya kemungkinan dampak dari dibukanya bili-bili namun saya tidak bisa pastikan tapi kita orang awam berpikirnya ke arah sana,” ucapnya.

Pria 55 tahun ini juga mengaku ia telah bermukim atau menjadi warga di Perumnas Antang di blok 8 sudah sejak puluhan tahun yakni sejak 1988.

Banjir di Perumnas Antang, foto diabadikan 25 Desember 2020. ©erickdidu

Ia menuturkan, selama tinggal di blok 8 dirinya pertama terdampak atau merasakan bencana banjir pada tahun 1993

“Banjir pertama itu hanya sebatas mata kaki, kemudian terus naik sampai lutut, naik lagi sampai pinggang, pokoknya rutinitas itu sampai pinggang, standar itu (air sampai pinggang orang dewasa),” jelasnya.

Baca Juga  Fenomena Citayam Fashion Week, Presiden Jokowi: Hal Positif Harus di Dukung

Menurutnya banjir terparah yang terjadi di Perumnas Antang itu terjadi pada 27 Januari 2019. Dimana rumahnya terendam banjir hingga atap.

“Selama saya tinggal di sini (Blok 8) itu yang paling parah dan paling cepat (air) naik,” ujarnya.

“Air bergerak (naik) saat itu setelah salat azhar, magrib sudah sampai di leher, itu paling cepat karena selama ini paling naik ada jeda waktu sampai satu hari jadi kita ada kesempatan ungsikan barang, tapi saat itu tidak ada. langsung naik (banjir),” sambungnya.

Bahkan kata dia, saat itu ada beberapa kendaraan roda dua dan roda empat yang tenggelam yang sudah tidak bisa diselamatan.

Banjir di Perumnas Antang, foto diabadikan 25 Desember 2020. ©erickdidu

Dia pun bilang, tiap banjir terjadi kerusakan materil atau prabot sudah pasti ada tapi mau gimana lagi perabot yang rusak ia tanggung sendiri. “Kalau kita harapkan dari pemerintah syukur-syukur kalau ada ganti rugi,” cetusnya.

Meski demikian, Iksan menyatakan tiap banjir melanda, pemerintah dan dinas terkait pasti memberikan bantuan baik berupa sembako maupun tenda.

Saat ditanya, apakah tidak ada niat untuk pindah tempat tinggal sehingga ia dan keluarganya tak lagi merasakan dinginnya air banjir. Apalagi ia mengaku tiap tahun terdampak banjir.

Namun ia mengaku enggan pindah karena dimana pun nantinya bermukim pasti akan terdampak banjir juga, sebab kata dia hampir seluruh wilayah di Kota Makassar terdampak banjir meski ketinggian banjirnya berbeda-beda.

“Kalau saya sendirikan ini rumah sendiri kalau saya pindah ketempat lain apakah tidak terjadi banjir juga? mungkin jika saya pindah pada saat itu, belum banjir tapi beberapa tahun kemudian apakah tidak terjadi (banjir) seperti sekarang?. Banjir di makassar sudah merata meskipun tingkat ketinggiannya berbeda,” ucapnya.

Dia pun menceritakan beberapa tetangganya yang juga enggan pindah meski sudah langganan banjir.

“Orang yang dari dulu ngontrak disini, dia sudah ngontrak berpuluh-puluh tahun disini dan sudah tahu ini daerah banjir tapi ujung-ujungnya dia beli rumah disini. Ada kurang lebih empat sampai lima Kepala Keluarga (KK). Itu kan ngontrak sedangkan kita yang punya rumah sendiri pasti tetap disini,” terangnya.

Baca Juga  ATSI Sesalkan Pembongkaran Menara BTS di Kabupaten Badung, Bali

Meski memilih tetap tinggal, ia mengaku jika ada juga beberapa warga yang ingin menjual rumahnya. Namun hingga saat ini belum laku sebab orang-orang tahu kalau perumnas antang merupakan wilayah langganan banjir.

Banjir di Perumnas Antang, foto diabadikan 25 Desember 2020. ©erickdidu

“Banyak rumah kosong karena rata-rata rumah kontrakan saja kalau mau dijual ada kayak di sebelah (sambil menunjuk rumah tetangganya yang lokasinya pas satu tembok dengan rumahnya) sudah itu sejak 2013 dia mau jual tapi orang tahu di sini lokasi banjir jadi orang berpikir mau beli rumah di sini, padahal banyak rumah yang mau dijual,” bebernya.

Hampir tiap tahun merasakan bencana banjir, Iksan berharap pemerintah miliki langkah nyata dalam penanganan banjir di wilayahnya. “Harapannya kita kan bagaimana solusinya tidak banjir minimal banjir ini tidak tiap tahun,” pintanya.

Meski begitu, ia juga sedikit pesimis terhadap pemerintah bakal berbuat nyata terkait solusi penanganan banjir tersebut. Sebab kata dia dari Gubernur Sulsel, wakil gubernur dan Wali Kota Makassar hingga
zamannya menteri permukiman dan pengembangan wilayah pada kabinet persatuan nasional, Erna Witoelar, pak Jusuf Kalla (JK) yang saat itu menjabat wakil presiden republik Indonesia belum ada solusi sama sekali.

“Kalau cuman sekedar datang berkunjung kan sama saja, makanya kami berharap paling tidak meminimalkan lah, kan kalau tuntaskan kemungkinan kecil itu tidak tapi kalau meminimalkan paling tidak jangan tiap tahun kami terima bencana banjir,” harapnya.

Dia pun menambahkan bahwa dulu jika banjir terjadi paling lama dua hari air sudah mulai surut namun kemarin empat hari baru surut.

Selain itu, ia juga mengungkapkan pada tahun 2020 banjir terjadi pada bulan Desember di 2021 tahun ini terjadi sejak Januari, Maret April dan Desember. “Februari tidak (banjir) jadi sudah 4 kali di tahun ini,” terangnya. (Dar)

Share :

Baca Juga

Indonesiaku

Supir Ambulans Pengantar Jenazah Meninggal Usai Alami Kecelakaan di Lutim

Indonesiaku

Presiden Jokowi Minta TGIPF Ungkap Tuntas Tragedi Kanjuruhan Kurang dari Sebulan

Indonesiaku

FOTO: Hari Kedua Timnas TC di Turki, Adaptasi Cuaca

Indonesiaku

Penuhi Target Nasional, Binda Sulsel Gelar Vaksinasi di Suku Pedalaman Barru

Bisnis

Berkontribusi Kelestarian Alam, Mbah Sukoyo Menerima Anugerah Amartha Local Heroes

Indonesiaku

Road Show Ramadan Tim Prof Husain Syam Berakhir di Perbatasan Sulteng

Indonesiaku

Lewati Myanmar, Timnas Indonesia Melaju ke Final Piala AFF U-16 2022

Indonesiaku

FOTO: Aksi Akbar Bela Palestina di Monumen Nasional