Home / Internasional

Rabu, 20 Maret 2024 03:26- WIB

WINGS THERAPY Rehabilitasi 6000 Anak Berkebutuhan Khusus dengan Tingkat Keberhasilan 70%

CEO Wings Theraphy, Judith Julia Justin.

CEO Wings Theraphy, Judith Julia Justin.

SINGAPURA, Merata.Net – Merayakan hari jadinya yang keenam pada bulan ini, WINGS Therapy Center (WINGS) merupakan pusat terapi terkemuka di Asia Tenggara untuk bayi hingga dewasa muda.

WINGS adalah salah satu dari sedikit pusat terapi yang beroperasi di bawah kerangka Model Terapi Intensif (IMOT). Berlokasi di Singapura, WINGS telah menangani lebih dari 6000 pasien hingga saat ini.

Dari 6000 pasien tersebut, 50% di antara mereka adalah orang asing yang terbang ke Singapura dari seluruh Asia Tenggara, khususnya Indonesia, untuk berobat di pusat terapi unik ini. 

Pusat terapi ini adalah salah satu dari sedikit pusat kesehatan di Asia dan dunia yang menyediakan terapi khas yang inovatif di bawah satu atap dengan menerapkan Model Terapi Intensif (IMOT) untuk menyediakan terapi seperti Suit Therapy (NeuroSuit™ and TheraSuit Method®), Latihan Spider Cage, Universal Exercise Unit, Intervensi Gerakan Dinamis (DMI), Cuevas Medek Exercises® (CME), Latihan Berjalan Intensif dengan LiteGat, Latihan Berjalan Robotik dengan Trexo Robotics, Task Specific Electrical Stimulation (TASES), dan masih banyak lagi. 

Anak saya harus menjalani kemoterapi karena leukemia. Perawatan tersebut berlangsung selama 9 bulan dan ini berdampak pada sebagian besar kemampuannya dan membuatnya kesulitan untuk berjalan.

Merupakan berkah bagi kami dengan mendapatkan bantuan dari WINGS. Julia dan timnya sangat luar biasa. Mereka berkomitmen, bersemangat dan sangat menyenangkan.

Valerie menjalani berbagai perawatan intensif sebelum kami memutuskan untuk pindah ke Singapura agar Valerie dapat mengikuti terapi secara rutin di WINGS. Saya rasa tidak ada layanan terapi yang serupa di Indonesia.

WINGS benar-benar unik, tidak hanya dalam metodenya tetapi juga dalam cara mereka memperlakukan setiap anak secara holistik. Saya belum pernah melihat yang seperti ini di mana pun di Asia! Kami bersyukur karena Valerie kini sudah bisa berjalan, berlari, bersepeda, dan menaiki anak tangga.

Baca Juga  The Fed Naikkan Suku Bunga, Harga Emas Tetap Berpotensi Kembali Naik

“Setelah 5 tahun menjalani terapi intensif, kami kembali pindah ke Jakarta pada tahun 2022 agar Valerie dapat bersekolah. Kami terus melakukan perjalanan ke WINGS selama liburan sekolahnya. Bahkan kami akan menjalankan perawatan intensif berikutnya pada bulan April 2024 mendatang,” kata Riza Legowo, ibu dari Valerie yang berusia enam tahun dari Jakarta, Indonesia.

WINGS dimulai oleh seorang ibu, Julia, dan putranya yang berkebutuhan khusus, Jake, pada tahun 2017. Jake didiagnosis menderita mutasi genetik yang sangat langka (NACC1), yang mempengaruhi Jake untuk berjalan, berbicara, dan kesulitan untuk menjalani kehidupan mandiri.

Ia juga terlahir dengan katarak bawaan di kedua matanya. Saat Jake baru berusia empat bulan, dia mengalami sekitar 1000 kejang perhari dan gagal mencapai tahap perkembangan awal.

Saat itulah Julia diberitahu bahwa anaknya mungkin tidak akan pernah bisa berjalan, berbicara, atau hidup secara mandiri. Hal ini menginspirasi Julia dan Jake selama 10 tahun berkeliling dunia dalam mencari solusi. 

Perjalanan mereka membuka dunia mereka kepada terapi-terapi terobosan yang tidak tersedia di Asia, seperti Intensive Model of Therapy (Model Terapi Intensif) (IMOT), Suit Therapy, Cuevas Medek Exercises (CME), Intervensi Gerakan Dinamis (DMI), dan lain-lain.

Mengetahui bahwa ada anak-anak seperti Jake di negara mereka yang berhak mendapatkan kesempatan untuk merasakan perawatan yang ada, maka mereka memutuskan untuk menjual harta benda untuk mendirikan WINGS dan membawa berbagai terapi ini ke hadapan anak-anak lain di Asia Tenggara. 

Baca Juga  Pemeran Tommy di Serial Power Rangers Meninggal Dunia

Rahasia kesuksesan WINGS adalah kerangka kerja yang mereka gunakan; Intensive Model of Therapy (Model Terapi Intensif) (IMOT), yang berlangsung dalam blok selama 3 minggu hingga 3 bulan yang dikenal sebagai ‘intensif’.

Menyerupai strategi bootcamp, latihan intensif 5 hari/minggu dan antara 2-4 jam/hari. Penelitian telah menunjukkan bahwa satu sesi terapi intensif bisa memberikan hasil lebih daripada terapi tradisional selama setahun penuh.

Mereka tidak hanya melihat efektivitas yang luar biasa dari kerangka IMOT, namun juga dengan terapi yang mereka berikan, telah membantu banyak anak dengan kondisi sedang hingga berat (seperti cerebral palsy dan atrofi otot tulang belakang).

Mereka yang sebelumnya tidak pernah berjalan seumur hidup, bisa mengambil langkah independen pertama mereka. 

Keajaiban WINGS tidak hanya terletak pada model intensif dan terapi terobosan yang kami tawarkan, namun juga pada semangat, komitmen, dan pengalaman tim terapi kami yang sangat terampil.

Pusat terapi kami berfokus pada memperlakukan anak secara holistik, dengan rasa hormat dan fokus yang kuat pada target dalam lingkungan yang menyenangkan dan memotivasi.

Kami bekerja di lantai terbuka yang mendorong komunikasi dan interaksi sosial antar orang tua dan antar anak. Pusat kami benar-benar merupakan tempat tumbuhnya harapan dan membangkitkan semangat keluarga berkebutuhan khusus.

“Semua ini adalah segalanya yang saya dan Jake butuhkan dalam perjalanan kami; harapan, penerimaan, rasa hormat, teman, dan motivasi,” kata Judith Julia Justin, CEO dan pendiri WINGS. (*)

Share :

Baca Juga

Indonesiaku

Buruan Hanya Empat Hari, Pameran Kesehatan MHTC Malaysia 2023 di Trans Studio Makassar

Internasional

Presiden Ukraina: Saya Ingin Bertemu Putin

Bisnis

Indosat Ooredoo Hutchison Raih Best Asian Operator di Telecom Review Excellence Awards 2023

Internasional

Boxing Day di Liga Inggris Terkendala Covid-19

Internasional

Mantan Juara Dunia Tinju Kelas Berat Ini Angkat Senjata Lawan Rusia

Internasional

Presiden Jokowi Bertemu Elon Musk, Bahas Potensi Pengembangan Investasi di Indonesia

Internasional

Awali Hapus Aturan Isoman, Inggris Siap Berdamai dengan COVID-19

Indonesiaku

Australia dan Indonesia Perluas Kerja Sama dalam Manajemen Risiko Bencana