MERATA.NET – Tupperware Brands resmi bangkrut. Selasa malam waktu setempat, perusahaan kontainer makanan itu telah mengajukan perlindungan kebangkrutan di Delaware, Amerika Serikat (AS).
Manajemen mengatakan telah mengalami kerugian yang meningkat karena turun drastisnya permintaan. Penjualannya merosot dalam beberapa tahun terakhir di tengah strategi baru perusahaan menempatkan lebih banyak produknya di toko ritel dan platform penjualan daring.
Sementara itu berdasarkan dokumen permohonan kebangkrutan yang mereka ajukan, Tupperware tercatat memiliki aset sebesar US$500 juta-US$1 miliar. Mereka juga memiliki kewajiban US$1 miliar-US$10 miliar.
Dokumen juga mencantumkan jumlah kreditur Tupperware yang mencapai 50.001 dan 100 ribu.
Pada 2023, perusahaan sejatinya telah menyelesaikan perjanjian dengan pemberi pinjaman untuk merestrukturisasi kewajiban utangnya, dan menandatangani bank investasi Moelis & Co untuk membantu mencari alternatif strategis.
“Perusahaan tersebut memiliki utang sebesar US$812 juta (sekitar Rp 12,4 juta triliun),” bunyi berkas pengadilan dikutip Reuters, dikutip Kamis (19/9/2024).
“Para pemberi pinjaman baru telah berupaya menggunakan posisi utang mereka untuk menyita aset Tupperware termasuk kekayaan intelektualnya seperti mereknya, yang mendorong perusahaan untuk mencari perlindungan kebangkrutan,” kata perusahaan dimuat laman yang sama.
Lonjakan biaya tenaga kerja, pengiriman, dan bahan baku pascapandemi seperti resin plastik juga menekan bisnisnya. Perusahaan bermaksud untuk melanjutkan operasi dan melakukan proses penawaran selama 30 hari untuk menemukan investor baru bagi seluruh perusahaan.
Tupperware didirikan oleh seorang ahli kimia yang berasal dari Massachusetts, AS, Earl Tupper pada 1946. Dikutip dari laman resmi Tupperware, Earl Tupper terinspirasi membuat wadah dengan tutup kedap udara tak lama setelah era Depresi Besar.
Ia menilai, wadah tersebut dapat menghemat pengeluaran karena dapat mengurangi sampah makanan dan dapat membantu keluarga yang terdampak perang. Walaupun sudah didirikan pada 1946, Earl Tupper baru memperkenalkan bisnisnya tersebut pasca Perang Dunia II. Lalu pada 1951, Tupper mempekerjakan seorang pelayan di perusahaan produk pembersih Stanley Home bernama Brownie Wise.
Perusahaan tersebut kemudian mengadopsi cara Stanley Home untuk menjual produk langsung kepada ibu rumah tangga yang dijuluki “home party.”
Cara tersebut berhasil dan pada 1950-an, Wise diangkat menjadi Wakil Presiden Pemasaran Tupperware. Trik penjualan tersebut berkembang pesat dan bahkan mempunyai komunitas yang dikenal dengan “Tupperware party.”
Meskipun Wise dipecat pada 1958 karena konfliknya dengan Earl Tupper, namun “Tupperware party” tetap hidup. Bertahun-tahun setelahnya, Tupperware telah dijual di hampir 100 negara dan pasar terbesarnya adalah Indonesia. (*)










