Home / Olahraga

Selasa, 1 September 2026 19:16- WIB

Sadikin Aksa Ungkap Beban Klub Indonesia: Dampak Sanksi FIFA hingga Pandemi Masih Terasa

Direktur Utama PSM Makassar, Sadikin Aksa. (FOTO/Erick Didu)

Direktur Utama PSM Makassar, Sadikin Aksa. (FOTO/Erick Didu)

MAKASSAR, Merata.net – Direktur Komersial I.League sekaligus pemilik PSM Makassar, Sadikin Aksa, menyoroti perkembangan industri sepak bola Indonesia yang dinilainya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal tata kelola dan kondisi finansial klub.

Sadikin membandingkan pengelolaan sepak bola Indonesia dengan sejumlah negara Eropa, seperti Belanda dan Spanyol. Menurutnya, standar tata kelola sepak bola nasional memang masih memiliki perbedaan cukup jauh dibandingkan negara-negara tersebut.

Meski demikian, ia menilai Indonesia berada di jalur yang tepat untuk terus melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pengelolaan sepak bola.

“Kalau kita membandingkan dengan Belanda dan Spanyol, bedalah. Tapi menuju ke sana itu ada. Tidak ada kata terlambat, kita mulai saja,” ujar Sadikin, dikutip Selasa (1/9/2026).

Ia menjelaskan, klub-klub sepak bola Indonesia sebelumnya telah menghadapi berbagai persoalan yang memberikan dampak besar terhadap kondisi finansial dan manajemen klub.

Baca Juga  PSM Hapus Tren Negatif, Pecundangi Persikabo 1-0 dengan 10 Pemain

Beberapa di antaranya adalah sanksi pembekuan dari FIFA serta terhentinya kompetisi selama sekitar 1,5 tahun akibat pandemi COVID-19.

“Klub-klub ini mendapatkan masalah besar, dan para pemegang saham (owner) masih menanggung dampak dari masalah-masalah lalu itu. Ini harus kita bereskan semua,” jelasnya.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Sadikin menilai penerapan club licensing atau lisensi klub perlu diperketat.

Menurutnya, sistem lisensi klub penting untuk mendorong klub menjadi lebih profesional sekaligus mampu mengelola keuangan secara mandiri dan berkelanjutan.

Pengetatan lisensi juga dinilai dapat mencegah munculnya persoalan serupa di masa mendatang, termasuk penunggakan hak pemain dan masalah yang berkaitan dengan Financial Fair Play (FFP).

“Dengan pengetatan club licensing, ini tugas utama kita agar klub bisa mandiri dan sustainable (berkelanjutan) ke depannya, terutama secara keuangan terlebih dahulu,” katanya.

Baca Juga  Cahaya Bone Siapkan Paket Bundling Nonton PSM Makassar berlaga di Parepare

Dorong Akademi Sepak Bola Jadi Profit Center

Selain persoalan tata kelola dan finansial klub, Sadikin juga menyoroti pentingnya pengembangan akademi sepak bola.

Ia menilai akademi di sejumlah negara maju tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan pemain muda, tetapi juga dapat menjadi sumber pemasukan bagi klub atau profit center.

Menurut Sadikin, kondisi tersebut masih berbeda dengan Indonesia. Akademi sepak bola di Tanah Air dinilai masih banyak yang bergantung pada subsidi dari klub.

Karena itu, ia berharap pengelolaan akademi sepak bola Indonesia ke depan dapat diarahkan menjadi lebih produktif dan mampu memberikan kontribusi finansial bagi klub.

“Di luar negeri, akademi itu profit center. Kalau di sini, akademi masih disubsidi. Ke depannya, akademi di Indonesia juga harus bisa jadi profit center,” pungkasnya. []

Share :

Baca Juga

Olahraga

Nice Try Timnas Indonesia

Olahraga

Tiga Gol Pato Berhasil Membawa Borneo FC Kudeta Madura United

Olahraga

Danny Pomanto Bakar Semangat Runners Makassar, Ikut Monas Half Marathon 2024

Olahraga

MotoGP Assen 2025: Marc Marquez Double Podium

Olahraga

PSM Makassar Kembali Berkandang di Stadion BJ Habibie

Komunitas

Januari 2024, Persatuan Golf Indonesia Sulsel Kirim Atlet Pelatihan ke Australia

Olahraga

Keren! Seri Pembuka Balapan Kejurnas Oneprix 2024 Berlangsung di Sirkuit RMS Kota Palopo

Olahraga

Patrick Kluivert Resmi Diperkenalkan PSSI