Makassar, Merata.Net – Lima pemeran film Balada si Roy hadir menyapa penggemar dan penonton film tersebut di Panakukang 21, Makassar, Selasa, (24/1/2023).
Film Balada Si Roy menceritakan kisah remaja mengarungi gejolak masa muda yang tengah mencari jati diri dan cinta yang disutradarai oleh Fajar Nugros.
Lima pemeran film tersebut yakni Abidzar Al-Ghifari, Febby Rastanty, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata dan Omara Esteghal dengan senang hati melayani permintaan foto dan menyapa penonton di salahsatu studio bioskop.
Pemeran utama Roy, yakni Abidzar saat jumpa media bercerita tentang proses pembuatan film yang diadaptasi dari novel karya Gol A Gong tersebut.
Ia mengungkapkan karakter Roy ini hidup di tahun 80an dan membuatnya harus melakukan berbagai pendalaman dan pengembangan karakter.
Saya terbantu dengan adanya workshop, bedah buku pendalaman karakter. Kami para pemeran terbantu dengan diskusi dengan penulis novel, sutradara Fajar Nugros,” Ujarnya.
Sementara itu, Febby Rastanty bercerita tentang bagaimana berakting seakan di tahun 80an.
“Salah satu yang membantu kami dalam proses produksi film adalah pakaian, make up kami ini membuat lebih percaya diri dan benar-benar terasa berada di masa itu,” Ujar Febby

Untuk kesulitan di proses produksi, Zulfa Maharani salah satu pemeran bercerita bahwa kendala awal berada di aksen berbahasa Sunda-Serang mengingat para pemeran berasal dari Jakarta.
“Belajar aksen Sunda-Serang membuat kami sedikit kesulitan namun bisa dilewati. Adapun kendala lain yakni proses produksi ini di era pandemi awal-awal. Harus PCR, Karantina dan belum vaksin,” tutup Zulfa
Mengutip IMDb, film Balada Si Roy mengikuti alur cerita dari sosok bernama Roy. Dia anak muda yang kerap pergi bersama Joe, anjingnya. Joe sudah menemani Roy semenjak usianya 7 tahun.
Saat ini dirinya tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya meninggal dan membuat keduanya pindah tempat tinggal dari Bandung ke Serang akibat keterbatasan pendapatan. Di Serang, Roy turut menempati sekolah baru.
Untungnya, Roy cukup diterima di sekolahnya. Dia memiliki tempat dekat yaitu Andi dan Toni. Di situ juga, Roy jatuh hati dengan gadis cantik nan ramah bernama Ani.

Hanya saja, sekolah ini terdapat geng siswa berjuluk Borsalino yang cukup disegani. Ketuanya adalah Dullah. Dullah menjadi sok berkuasa lantaran ayahnya memang memiliki kekuasaan di daerah Serang sebagai pejabat.
Sikap Dullah yang kerap menindas siswa, termasuk Roy, banyak membuat geram orang lain. Roy lalu membuat geng sendiri bersama Andi dan Toni dengan julukan RAT, akronim huruf depan masing-masing anggotanya.
RAT secara terang-terangan menentang segala bentuk penindasan siswa lain. RAT dan Borsalino akhirnya terlibat konflik. Di sisi lain, RAT mendapat dukungan dari para siswa di sekolahnya. (*)










