Home / Indonesiaku

Minggu, 14 Januari 2024 19:44- WIB

Berpotensi Sebabkan Malapetaka, PETAKA Tolak Rencana Pembangunan Panas Bumi di Sinjai

Titik panas bumi di Desa Kaloling, Sinjai Timur. (Foto: PETAKA)

Titik panas bumi di Desa Kaloling, Sinjai Timur. (Foto: PETAKA)

SINJAI, Merata.Net – Berpotensi Sebabkan Malapetaka, PETAKA Tolak Rencana Pembangunan Panas Bumi
di Sinjai Indonesia yang berada di kawasan ring of fire memiliki potensi panas bumi (geothermal)
yang besar.

Menurut ESDM, potensinya mencapai 23.766 Megawatt (MW) yang tersebar ke
361 titik lokasi. Di Sulawesi Selatan, setidaknya terdapat 21 titik, dua diantaranya berada di Kabupaten Sinjai.

Kedua titik tersebut berada di Desa Salohe, Desa Kaloling Kecamatan
Sinjai Timur, dan Desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai Borong.

Di bulan Juni 2023, Bupati Sinjai, Andi Seto Asapa menemani Investor asal Amerika Serikat dan Korea Selatan mengunjungi titik potensi panas bumi di Desa Kaloling. Ia mengatakan akan memberikan kemudahan bagi investor yang ingin masuk di Sinjai.

Belakangan, geothermal menjadi salah satu sumber energi andalan pemerintah dalam menjalankan proyek transisi energi karena dianggap rendah karbon.

Meskipun demikian, dalam prakteknya pembangunan geothermal justru memicu konflik dan menjadi malapetaka
di beberapa wilayah pembangunan Geothermal.

Koordinator Pemuda Tani Merdeka (PETAKA), Irwan Setiawan mengatakan bahwa mengundang investasi pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di
Sinjai sama saja dengan mengundang malapetaka.

“Pembangunan Geothermal sudah memakan banyak korban. Contohnya seperti pembangunan geothermal oleh PT. SMGP di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Pada tahun 2021 sebanyak lima warga meninggal dunia akibat menghirup gas Hidrogen
Sulfida (H2S), kemudian di tahun 2022 setidaknya 79 warga yang keracunan,” ujarnya melalui rilis keterangan pers di merata.net, Minggu (14/1/2024).

Baca Juga  Enam Peristiwa Besar di Indonesia Selama 2021, Apa Saja?
Manifestasi panas bumi Lompobattang di Desa Batu Belerang, Sinjai Borong.
(Foto: PETAKA).

Irwan atau yang akrab diisapa Iwan menjelaskan, selain mengancam keselamatan jiwa warga, titik panas yang berada di Sinjai Timur tepat berada di dekat lokasi perkebunan dan
peternakan sehingga bila dikembangkan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi warga juga akan terancam kehilangan lahan pertaniannya.

“kualitas dan kuantitas air juga akan terancam, apalagi lokasinya berdekatan dengan sungai,” Sambungnya.

Sementara untuk titik panas bumi yang berada di Desa Batu Belerang, ia mengatakan bahwa dampaknya akan sangat tinggi karena lokasinya berada di hulu Sungai Balantieng.

“Pengembangan panas bumi Lompobattang di Desa Batu Belerang akan sangat berisiko tinggi karena Sungai Balantieng merupakan sumber air baku bagi masyarakat di daerah Sinjai Borong, Sinjai Selatan, Sinjai Timur, Sinjai Utara dan beberapa daerah di Kabupaten
Bulukumba.”

Selain itu, saya khawatir pengembangan pembangkit listrik panas bumi di Desa Batu Belerang akan mengulang bencana besar yang terjadi di Sinjai pada tahun 2006.

“Hal itu karena kegiatan pengeboran panas bumi akan membuat gempa minor dan pergeseran tanah sehingga dapat membuat longsoran yang menutupi tubuh sungai yang kemudian jebol dan menjadi banjir bandang.” Sambungnya.

Baca Juga  Wabup Bone, Ambo Dalle Bersama Direksi Kalla Translog dan Unilever Resmikan New Concess Wall's Watampone

Oleh karena itu, Iwan tegas menolak pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di kedua lokasi tersebut.

“Kami meminta pemerintah untuk tidak melanjutkan rencana pembangunan Geothermal di Kabupaten Sinjai.” Tegasnya.

Senada dengan Iwan, Koordinator Divisi Kampanye Hutan Jaringan Pemantau Kehutanan Independen (JPIK) Sulawesi Selatan, Taufik Parende juga mengungkapkan rencana
pembangunan Geothermal di Kabupaten Sinjai merupakan langkah yang keliru sehingga harus dibatalkan.

Proyek geothermal yang diklaim sebagai energi terbarukan dan ramah lingkungan nyatanya memiliki risiko yang tinggi dan seringkali abai terhadap HAM.

“Dalam prakteknya Geothermal juga menggunakan lahan yang boros dan merusak ekosistem hutan, sehingga berkontribusi terhadap deforestasi yang merupakan sumber terjadinya krisis iklim,” ucapnya.

Dari hasil pemantauan kami di lapangan rencana pembangunan Geothermal akan
mengancam kehidupan petani dan ekosistem hutan Sinjai, apalagi untuk di Sinjai Borong lokasinya tepat berada di ekosistem hutan yang rapat dan berada di sekitar kawasan Taman
Hutan Rakyat (TAHURA) dan Kawasan Hutan Lindung.

“Sehingga wilayah tersebut harus dilindungi dan dijaga fungsi hidrologisnya, bukan justru diberikan kepada investor untuk pengembangan Geothermal yang justru dapat mengundang bencana sosio-ekologis.” Tutupnya. (*)

Share :

Baca Juga

Indonesiaku

Program Pertukaran Muslim Australia dan Indonesia Kini Telah Berlangsung 20 Tahun

Indonesiaku

Penjelasan Kakorlantas Polri Terkait Larangan Memakai Sendal Jepit Saat Berkendara Roda Dua

Hiburan

Mercure Makassar Nexa Ajak 40 Anak Panti Asuhan Nikmati Fasilitas Hotel

Indonesiaku

Presiden Jokowi Minta TGIPF Ungkap Tuntas Tragedi Kanjuruhan Kurang dari Sebulan

Indonesiaku

Puspom TNI Sedang Investigasi Kasus-kasus Bentrok Oknum TNI dan Polri

Bisnis

Bumi Karsa Raih Sertifikat ASEAN Engineer Register Pada CAFEO Ke-41

Indonesiaku

FOTO: Walikota Danny Melayat di Rumah Duka Emmeril Kahn Mumtadz

Indonesiaku

Gojek Berikan Beasiswa Kepada Anak Mitra Driver di Makassar