Home / Indonesiaku

Selasa, 23 November 2021 12:35- WIB

Sempat Ricuh, Aliansi Buruh di Makassar Tolak UMK 2022

Aliansi Perjuangan Rakyat (Alpar) menolak kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Makassar. FOTO/IST

Aliansi Perjuangan Rakyat (Alpar) menolak kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Makassar. FOTO/IST

MAKASSAR, MERATA.NET – Aliansi Perjuangan Rakyat (Alpar) menolak kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Makassar yang ditetapkan berdasarkan PP 36 tahun 2021 tentang Pengupahan.

Jenderal Lapangan ALPAR, Taufik mengatakan, pihaknya menilai, kenaikan upah 2022 sangat jauh dari kata layak untuk pekerja buruh di Kota Makassar.

“Kami menolak kenaikan upah minimum tahun 2022 karena kami menilai penetapan kenaikan upah minimum ini sangat jauh dari kata layak. Dan formula PP 36 Tahun 2021 yang digunakan sebagai dasar penetapan upah minimum menurut kami sangat bertentangan dengan aturan lainnya yang terkait dengan kebutuhan hidup layak dan penetapan upah minimum,” ujar Taufik saat melakukan Aksi di Kantor Disnaker Makassar, Selasa (23/11/2021).

Kenaikan upah minimum buruh sebesar 1.09 persen untuk tahun 2022 yang ditetapkan oleh kementrian ketenagakerjaan dinilai terlalu kecil dan tak cukup untuk kebutuhan hidup layak.

Aksi demo ini sempat ricuh, lantaran salah seorang massa ingin menerobos masuk kedalam ruang rapat yang sedang berlangsung membahas penetapan UMK Kota Makassar oleh Disnaker bersama Dewan Pengupahan Kota Makassar. FOTO/IST

Ia juga meminta, pemerintah mencabut UU No. 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.

UU Omnibus Law atau UU Cipta Kerja yang telah disahkan pada tanggal 05 Oktober 2020 tahun lalu merupakan bentuk atau upaya pemerintah dalam melakukan penjajahan modern terhadap rakyatnya.

Baca Juga  Cungkil Motor Milik Polwan Empat Pelaku Diamankan

“Setahun sejak di tetapkannya, UU ini sudah sangat banyak merugikan rakyat terutama kaum buruh,” katanya.

“Dimana UU ini telah mendegradasi hak-hak buruh. Banyaknya pasal-pasal dan juga PP turunan yang melegalkan penerapan UU Cipta Kerja yang membuat buruh saat ini berada dalam keterpurukan dan semakin jauh dari kata sejahtera,” tambahnya.

Taufik mengatakan, penetapan upah minimum tersebut mengacu pada UU Cipta Kerja Tahun 2020 yang kemudian diturunkan melalui PP No. 36 Tahun 2021 ini dianggap lebih memberikan proteksi kepada pengusaha daripada kaum buruh, padahal negara seharusnya memproteksi hak-hak kaum buruh sebagai elemen masyarakat yang lemah.

Penetapan upah minimum yang menggunakan formula PP 36 ini di nilai tidak memiliki landasan hukum karena UU Cipta Kerja saat ini masih sedang di gugat di Mahkamah Konstitusi.

Selain itu, formula yang digunakan dalam PP 36 Tahun 2021 juga mencerminkan system penerapan upah murah di Indonesia dan tidak lagi memperhatikan kebutuhan hidup yang layak bagi buruh.

Baca Juga  Wali Kota Danny Resmikan Grha Prodia, Ikon Layanan Kesehatan Terbaru di Makassar

“Berdasarkan survey kami di beberapa pasar di Kota Makassar, hasil dari peninjauan kebutuhan hidup layak berada di angka Rp. 4.481.285 sesuai dengan 64 komponen dan jenis kebutuhan hidup layak berdasarkan Permenaker No. 18 Tahun 2020, padahal Permenaker tersebut dibuat setelah pengesahan UU No. 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja,” terangnnya.

Menurutnya, upah di Kota Makassar saat ini angkanya berada sangat jauh dari angka kebutuhan hidup layak. Sampai saat ini, dewan pengupahan maupun pemerintah tidak pernah mengumumkan kebutuhan hidup layak yang seharusnya menjadi acuan penetapan upah minimum.

“Pasca perubahan system penetapan upah minimum berdasarkan UU No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, kenaikan upah minimum di Indonesia sudah tidak lagi mempertimbangkan kebutuhan hidup layak,” pungkasnya.

Aksi demo ini sempat ricuh, lantaran salah seorang massa ingin menerobos masuk kedalam ruang rapat yang sedang berlangsung membahas penetapan UMK Kota Makassar oleh Disnaker bersama Dewan Pengupahan Kota Makassar. Beruntung petugas keamanan melerai aksi keributan di Kantor Disnaker. (Jan/Rik)

Share :

Baca Juga

Bisnis

Berinovasi, Perjalanan Laut Menggunakan Ferry kini Bisa Dipesan di Tiket.com

Indonesiaku

Ditlantas Polda Sulsel Berangkatkan 150 Personel ke KTT WWF 10 di Bali

Indonesiaku

MUI Sulsel : Umat Muslim Haram Menggunakan Atribut Natal

Indonesiaku

Gelar Jumat Berkah, Hendriasari Ichsan Menyapa Pedagang di Pasar Terong

Indonesiaku

Indira Berikan Dukungan Materil dan Moril untuk Korban Kebakaran di Maccini Gusung

Indonesiaku

Merasa Kecewa Penonton Konser CoArt Coret Fest Hujat Akun IG Penyelenggara

Indonesiaku

Penumpang Bandara Sultan Hasanuddin Kepanasan, Begini Jawaban Angkasa Pura

Indonesiaku

Penyebaran Varian Omicron Meningkat, Kini 572 Kasus di Indonesia