MERATA.NET – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Tingkat Nasional 2026 tidak berhenti pada keindahan membaca Al-Qur’an. Lebih dari sebuah kompetisi, MTQ menurutnya perlu menjadi ruang untuk menghayati ayat demi ayat Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan.
“Kita datang di sini bukan hanya untuk memperlombakan suara-suara yang sangat merdu, melainkan seberapa besar ayat demi ayat itu merasuk di dalam benak kita untuk kita jadikan suluh di dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini,” ujar Menag saat membuka MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026 di Makassar, Senin (24/8/2026).
Karena itu, Menag menilai ukuran keberhasilan MTQ tidak semata ditentukan oleh siapa yang keluar sebagai juara. Setiap peserta dan masyarakat yang mengikuti rangkaian MTQ dapat memperoleh nilai dari interaksinya dengan Al-Qur’an.
“Di sini nanti tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Semuanya menjadi pemenang,” tuturnya.
Menag juga menyoroti semakin terbukanya ruang kajian Al-Qur’an seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat menjadi momentum untuk memperluas kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya ayat-ayat kauniyah yang berkaitan dengan fenomena alam.
Ia mengatakan, selama ini pembahasan Al-Qur’an sering lebih banyak memberikan perhatian pada ayat-ayat hukum. Padahal, menurut Menag, banyak bagian Al-Qur’an yang masih dapat menjadi objek kajian dari berbagai disiplin ilmu.
“Kita bangga dengan hadirnya AI, tapi AI ini justru semakin mengungkapkan rahasia-rahasia besar yang tersimpan di dalam Al-Qur’an,” kata Menag.
Menurutnya, perkembangan pengetahuan dapat membuka ruang yang semakin luas untuk membaca Al-Qur’an melalui beragam perspektif. Karena itu, ia berharap pengembangan MTQ ke depan juga memberi tempat lebih besar bagi penghayatan dan pendalaman kandungan Al-Qur’an.
“Semakin tinggi dan semakin detail, semakin canggih teknologi itu, semakin tersingkap rahasia-rahasia yang terkandung di dalam Al-Qur’an,” ungkapnya.
Menag pun mengusulkan agar perkembangan MTQ tidak hanya berkutat pada cabang-cabang yang menampilkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Ruang untuk mengkaji kandungan Al-Qur’an, termasuk kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, menurutnya dapat semakin diperkuat.
“Kalau perlu nanti ada tambahan perlombaan baru, penghayatan, pendalaman, bagaimana mengkaji ayat-ayat sains dalam Al-Qur’an,” katanya.
Menag menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak membuat Al-Qur’an kehilangan relevansi. Sebaliknya, ia memandang Al-Qur’an tetap dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
“Mari Bapak-Ibu, jangan hanya kita mengandalkan keindahan melagukan Al-Qur’an, tapi hayati, jiwai, dan lihat manfaatnya. Betapa Al-Qur’an itu benar-benar sebagai kitab modern, kitab penuntun zaman,” pesan Menag. (*)










