MAKASSAR, Merata.Net – Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah sebagai langkah nyata menjaga kelestarian lingkungan.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Ekoteologi bertema “Dari Ego ke Eco: Merawat Bumi, Menjaga Kehidupan”, yang merupakan rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan di Hotel Horison Makassar, Sabtu (24/10/2026).
Dalam seminar tersebut, Melinda membawakan materi bertajuk “Pilah Sampah dari Sumber”. Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari kesadaran setiap individu, terutama melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.
Berdasarkan materi yang dipaparkannya, Kota Makassar dengan luas wilayah 175,77 kilometer persegi dan 15 kecamatan memiliki jumlah penduduk tercatat sebanyak 1.482.800 jiwa.
Potensi timbulan sampah pada Oktober 2026 mencapai 541,93 ton per hari. Kondisi ini menjadi gambaran pentingnya upaya pengurangan sampah yang dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Melinda menjelaskan, upaya penanganan persoalan persampahan perlu berjalan melalui tiga langkah utama, yakni pengurangan sampah dari sumber, penguatan fasilitas pengelolaan sampah organik dan anorganik, serta pelibatan masyarakat dan lintas sektor.
Ketiganya menjadi bagian penting dalam mendorong sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah di Kota Makassar.
Sejalan dengan itu, Instruksi Wali Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber menjadi salah satu landasan gerakan yang mendorong masyarakat untuk mengambil peran lebih aktif dalam mengurangi sampah.
Dalam materinya, Melinda mengajak masyarakat membiasakan pemilahan sampah menjadi tiga kategori, yaitu organik, anorganik, dan residu.
Kebiasaan tersebut perlu dibarengi dengan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilihan produk dengan kemasan ramah lingkungan, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan kerja bakti dan kampanye gaya hidup minim sampah atau zero waste lifestyle.
Selain pemilahan, masyarakat juga dapat memanfaatkan berbagai metode sederhana untuk mengolah sampah organik di rumah.
Beberapa alternatif yang diperkenalkan meliputi komposter, ember tumpuk, lubang biopori, dan budidaya maggot. Penerapan metode tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kemampuan masing-masing rumah tangga.
Materi yang disampaikan Melinda juga menempatkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjawab tantangan ekologis perkotaan.
Selain itu, Melinda juga menjelaskan bahwa dalam enam bulan terakhir, penataan TPA Tamangapa mulai menunjukkan perubahan signifikan.
Kondisi area TPA kini ditata lebih rapi, bau menyengat yang sebelumnya menjadi salah satu persoalan mulai berkurang, dan sebagian besar area timbunan sampah telah ditutup menggunakan lapisan tanah uruk serta membran plastik.
Penataan ini menjadi bagian dari upaya pembenahan kondisi TPA agar lebih terkendali sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Meski demikian, upaya perbaikan tersebut perlu terus dilanjutkan dan diimbangi dengan pengurangan sampah dari sumber agar beban penanganan di TPA dapat berkurang secara bertahap.(*)










