Home / Indonesiaku

Kamis, 5 November 2026 19:27- WIB

Kisah dari Pulau Kei: Saat RS Kapal Menjawab Penantian Warga untuk Pengobatan Memadai

MERATA.NET – Bagi Rindung (60), laut bukan sekadar bentangan alam yang indah, melainkan bagian dari ujian kesabaran yang panjang. Tinggal di Desa Wakol, Kei Besar, ia harus berkali-kali menelan cemas melihat penyakit kulit anaknya tak kunjung sembuh akibat ketiadaan dokter spesialis di wilayahnya.

Namun, kecemasan itu perlahan mencair ketika rumah sakit terapung merapat di dermaga mereka, dan membawa uluran tangan medis yang selama ini terasa begitu jauh dari jangkauan.

“Sudah tiga kali berobat tapi tidak ada perubahan sama sekali karena di sana tidak ada dokter spesialis,” ucap Rindung yang datang menggunakan ojek menuju rumah sakit terapung.

Sebelumnya Rindung kerap membawa anaknya berobat ke puskesmas di Tual, Kei Kecil. Namun, dari beberapa kali berobat di sana, anaknya tak kunjung membaik karena ketiadaan dokter spesialis kulit.

Adalah Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II, rumah sakit terapung yang dioperasikan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) dengan dukungan Pertamina Group yakni PT Pertamina (Persero), PT Pertamina International Shipping (PIS), dan Indonesia Healthcare Corporation (IHC), yang menghadirkan harapan baru bagi Rindung dan warga di Kepulauan Kei lainnya.

“Hari ini alhamdulillah dokter di sini bilang anak saya sudah lebih baik kondisinya,” tutur Rindung setelah selesai menemani anaknya berobat di RSK.

Salah satu relawan dokter dari IHC yakni dr. Nunung Agustiarini menjelaskan bahwa penyakit kulit merupakan salah satu yang paling banyak diderita oleh warga setempat. Selain itu, pasien dengan  kondisi medis yang membutuhkan tindakan juga kerap ditemui oleh tim tenaga kesehatan RSK mengingat infrastruktur kesehatan yang belum memadai di Kepulauan Kei.

Baca Juga  Imlek 2023, Tahun Kelinci Air dan Tahun Harapan

“Kalau penyakit yang umum ditemukan di rumah sakit kapal ini, selama saya di poli, kebanyakan infeksi saluran pernafasan. Kemudian di sini juga banyaknya kasus bedah yang tidak tertangani. Jadi kalau kunjungan itu, lumayan banyak kasus-kasus bedah. Kemudian kasus-kasus kulit, kemudian kasus-kasus infeksi biasanya, dan penyakit degeneratif seperti hipertensi, kemudian diabetes melitus itu sangat banyak di sini,” terang Nunung.

Antusiasme warga mendapat penanganan di RSK ini sangat besar. Sejak memulai pelayanan pada September 2026, RSK Nusa Waluya II telah memberikan layanan kesehatan gratis kepada lebih dari 6.000 penerima manfaat di Kepulauan Kei, mulai dari pemeriksaan umum, rawat inap, kehadiran berbagai dokter spesialis, hingga tindakan operasi.

Kehadiran RSK Nusa Waluya II menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih mengharuskan masyarakat selalu mendatangi fasilitas kesehatan di wilayah lain, rumah sakit beserta tenaga medisnya hadir lebih dekat ke tempat tinggal mereka.

Direktur RSK Nusa Waluya II, dr. Tasia Risma Lidya Simaremare, menjelaskan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan cukup beragam, mulai dari pemeriksaan umum hingga tindakan medis yang membutuhkan fasilitas dan tenaga kesehatan khusus.

“Ada yang penyakitnya sudah cukup lama, sudah bertahun-tahun, tapi mungkin karena fasilitas kesehatannya yang tidak memadai, sehingga mereka belum berobat,” jelasnya.

Di samping itu, faktor edukasi jadi salah satu faktor pembeda dalam melayani kesehatan pasien di sini. Tasia menuturkan bahwa perbedaan bahasa, kultur, serta akses pendidikan yang terbatas menjadi tantangan utama saat memberikan pelayanan kesehatan. Kehadiran rumah sakit kapal juga memungkinkan masyarakat memperoleh penanganan medis tanpa harus selalu melakukan perjalanan ke fasilitas kesehatan rujukan di luar wilayah tempat tinggalnya.

Baca Juga  Danny Pomanto Sampaikan Duka Mendalam Wafatnya Pastor Felix Layadi

Dukungan terhadap RSK Nusa Waluya II menjadi bagian dari komitmen tanggung jawab sosial Pertamina Group. Sementara untuk Pertamina International Shipping (PIS) ini merupakan kolaborasi ketiga perusahaan dengan doctorSHARE untuk rumah sakit kapal. Kolaborasi ini sejalan dengan semangat program Tangung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang bertajuk BerSEAnergi untuk Laut. Program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan laut, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada wilayah pesisir dan kepulauan.

Kolaborasi PIS dan doctorSHARE telah berjalan selama tiga tahun, dengan jangkauan pelayanan sebelumnya meliputi wilayah Sorong dan Raja Ampat, Papua Barat Daya.

“Kami bangga akan kerja sama kami dengan doctorSHARE dalam beberapa tahun terakhir. Melalui kolaborasi ini, PIS berharap kehadiran layanan kesehatan terapung dapat membantu mengurangi hambatan geografis dalam memperoleh layanan medis, sekaligus membuka peluang peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan Indonesia,” ujarnya, saat melakukan kunjungan di rumah sakit kapal.

Selain di Kei Besar, RSK Nusa Waluya II bersama PIS sebelumnya telah melayani masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Pada 2024, RSK berhasil menangani 3.370 pasien di Sorong, Papua Barat Daya. Sementara pada tahun berikutnya, RSK sukses melayani 4.099 pasien selama 60 hari di Waigeo, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya. (*)

Share :

Baca Juga

Indonesiaku

Puncak Arus Balik Lebaran 6-9 Mei, Ditlantas Polda Sulsel Petakan Area Rawan Macet

Indonesiaku

MaxOne Hotel & Resort Makassar Gelar Sunatan Massal Bersama Baznas , PMI Kota Makassar dan IMA Chapter Makassar

Indonesiaku

Pertamina Patra Niaga Sulawesi Gerak Cepat Bantu Korban Banjir di Makassar

Indonesiaku

Waspadai Flu di Tengah Padatnya Pekerjaan Akhir Tahun, Simak Caranya Agar Tetap Produktif  

Indonesiaku

Prihatin Bencana, Aksi Apindo Sulsel Peduli Salurkan Bantuan di Maros dan Makassar 

Indonesiaku

Keren! Aksi Pembentangan 1000 Meter Bendera Merah Putih oleh Warga di Rusunawa Mariso

Indonesiaku

GAM Gelar Aksi Tolak RKUHP di Makassar

Bisnis

Zurich dan Mitra Gelar Gerakan Tanam Mangrove di Enam Kota