MERATA.NET – Pelatih kepala Timnas Indonesia John Herdman meluapkan kegembiraan luar biasa usai membawa Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad Merah Putih mengandaskan perlawanan sengit sepuluh pemain Thailand melalui drama adu penalti di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Kemenangan ini memastikan trofi perdana kompetisi resmi garapan FIFA tersebut tetap berada di tanah air.
Partai pamungkas sarat emosi ini menyajikan drama jual-beli serangan yang mendebarkan sepanjang 120 menit laga. Indonesia unggul lebih dulu lewat sontekan Dean James sebelum Thailand menyamakan skor. Pada babak tambahan waktu, tandukan Elkan Baggott pada menit ke-116 membuyarkan keunggulan Thailand dan memaksakan laga berlanjut ke babak tos-tosan.
Hasil manis ini mengakhiri penantian panjang masyarakat Indonesia selama lebih dari tiga dekade untuk mencicipi gelar juara regional. Kemenangan bersejarah ini sekaligus memutus kutukan kelam delapan pertandingan beruntun tanpa pernah menang atas Thailand dalam rentang sepuluh tahun terakhir.
Herdman menyebut keberhasilan ini sebagai pencapaian paling istimewa sepanjang karier kepelatihannya. Pria asal Inggris tersebut mengapresiasi keberanian luar biasa anak asuhnya yang terus bertarung melintasi berbagai momen kritis. Di seberang lapangan, pelatih Thailand Anthony Hudson secara ksatria mengakui kemajuan pesat sepak bola Indonesia.
Di ruang konferensi pers, Herdman mengaku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan rasa bangganya terhadap determinasi skuad Garuda. Baginya, semangat juang para pemain di atas lapangan hijau melampaui segala perhitungan taktik.
“Sulit merangkai kata-kata malam ini. Saya benar-benar jatuh cinta pada pertandingan ini dan pada tim yang luar biasa ini. Keberanian para pemain sungguh membuat saya terkesima,” tutur mantan juru taktik Timnas Kanada tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Herdman membeberkan besarnya pengorbanan seluruh elemen tim demi mewujudkan mimpi besar ini. Mereka menempuh perjalanan ribuan mil dan menyaring puluhan pemain sejak pemusatan latihan awal.
“Kami menempuh perjalanan 32.000 mil untuk turnamen ini. Kami memulai proses dengan menyaring 80 pemain hingga mengerucut menjadi 23 nama demi mempersembahkan trofi pertama dalam sejarah sepak bola Indonesia. Ini pencapaian yang super spesial,” tegasnya bangga.
Herdman mengingat kembali beban sejarah sepak bola nasional yang sempat menelan enam kali kegagalan di partai final kompetisi regional.
Ia menegaskan keberhasilan generasi saat ini berdiri di atas fondasi kokoh yang telah dibangun para legenda terdahulu. Nama-nama ikonik seperti Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales dinilainya telah mewariskan rasa percaya diri bagi generasi penerus.
“Masyarakat Indonesia telah menunggu momen ini selama lebih dari 30 tahun. Selama masa penantian itu, para pemain legendaris telah menanamkan keyakinan pada generasi muda ini. Kami membawa mentalitas juara baru ke dalam tim,” urai Herdman.
Herdman menambahkan bahwa pembinaan sepak bola di tanah air kini berada di jalur yang tepat. “Saya tinggal di Indonesia dan menyaksikan langsung denyut nadi sepak bola di Liga 1. Program tim ini terbukti bekerja dan menjadi inspirasi besar bagi negeri yang indah ini.”
Bek jangkung Elkan Baggott tampil sebagai pahlawan lewat gol penyama kedudukan pada menit ke-116 babak perpanjangan waktu. Seusai membobol gawang lawan, Baggott langsung merayakannya dengan tarian bahagia di depan bangku cadangan pelatih.
Herdman sempat membagikan cerita unik terkait proses lahirnya gol krusial tersebut. Ia mengaku sempat panik dan melarang para bek tengah untuk maju meninggalkan pos pertahanan.
“Saya berteriak meminta mereka menahan diri dan percaya pada struktur taktik. Namun mereka justru merangsek maju memburu bola dan mencetak gol penentu! Jadi, naluri keberanian para pemainlah yang membuktikannya malam ini,” canda Herdman seraya tertawa lepas.
Baggott sendiri meluapkan rasa syukurnya atas kepemimpinan Herdman yang berhasil memutus rentetan kegagalan masa lalu. “Saya sangat bangga menjadi orang Indonesia malam ini. Kami tidak mungkin meraih trofi ini tanpa kerja keras luar biasa dari Coach John Herdman,” ungkap Baggott.
Di sisi lain, kekalahan ini terasa sangat menyesakkan bagi kubu Thailand yang sempat memimpin lewat gol Iklas Sanron dan Peeradol Chamrasamee. Kendati demikian, pelatih Thailand Anthony Hudson tetap melayangkan apresiasi tinggi atas kedalaman materi pemain Indonesia.
Hudson mengakui keunggulan kualitatif pilar-pilar Garuda yang kini merumput di berbagai kompetisi elite Eropa.
“Selamat yang sebesar-besarnya untuk Indonesia. Sangat jelas bahwa tim mereka sedang melangkah ke arah yang tepat dengan materi pemain diaspora yang sangat kuat. Bermain di stadion semegah ini membuktikan Indonesia adalah negara sepak bola yang sangat serius,” kata Hudson.
Hudson juga menyampaikan penghormatan mendalam kepada striker gaek Teerasil Dangda yang melakoni laga perpisahan bersama tim nasional. “Pemain kami berjuang dengan segenap hati kendati bermain dengan sepuluh orang. Kami pulang dengan kepala tegak,” pungkas pelatih asal Inggris tersebut. (*)










