Home / Komunitas / News

Minggu, 1 November 2026 09:29- WIB

Dari Tanamalia ke Kalolok: Jejak Pong Sampun Membangun Tongkonan di Tana Toraja

[Foto: Tongkonan Kalolok Pong Sampun di Lembang Saluallo, Sangalla Utara. Dok. keluarga]

[Foto: Tongkonan Kalolok Pong Sampun di Lembang Saluallo, Sangalla Utara. Dok. keluarga]

Toraja, Merata.net – Sebuah perjalanan dari Tanamalia menjadi awal lahirnya sebuah kampung, sebuah tongkonan, dan sebelas generasi keturunan.

Inilah jejak Pong Sampun, pembuka kampung Kalolok di Lembang Saluallo, Sangalla Utara, sekaligus pendiri salah satu tongkonan tertua di Tana Toraja.

Berangkat Membuka Kampung Baru

Menurut penuturan keluarga, kisah ini bermula setelah masa To Pada Tindo berakhir.

Pada masa itu, setiap orang diberi keleluasaan untuk membuka dan membangun kampung di wilayah yang belum berpenghuni.

Pong Sampun memanfaatkan kesempatan itu. Ia meninggalkan Tanamalia (Tanah Malia) dan membuka tanah di Kalolok dan sekitarnya.

Karena menjadi orang pertama yang membuka tanah di sana, Pong Sampun dikenal sebagai Pangngala Tondok, sang pembuka kampung.

Nama Kampung Halaman di Tanah Baru

Seperti banyak perantau, Pong Sampun membawa kenangan kampung halamannya. Tanah baru itu ia beri nama Kalolok, sama dengan nama daerah asalnya di Tanamalia.

Hingga kini, nama tersebut menjadi jejak perjalanannya dan penanda bahwa dialah pembuka kampung Kalolok.

Pemberani yang Memilih Gendang

Pong Sampun juga dikenang sebagai sosok pemberani. Keluarga menuturkan, dahulu ada seorang bernama Lua’ Lindo (“muka lebar”), yang konon jarak antara kedua matanya mencapai tiga jengkal. Lua’ Lindo ma’ sumpi’ (meniup sumpit) ke arah Buntu Kaero dan mengenai anak Puang Buntu Kaero.

Puang Buntu Kaero pun mengadakan sayembara dengan hadiah kekayaan bagi siapa saja yang dapat mengalahkan Lua’ Lindo.

Pong Sampun menyusun siasat dan berhasil memenangkannya. Namun, ketika ditawari emas dan sawah, ia hanya memilih sebuah gandang (gendang), benda yang dalam budaya Toraja sarat makna adat, sosial, dan spiritual.

Dari kisah yang dituturkan oleh Ne’ Sattu (Ne’ Pala’) dan Sitti Mina ini, keluarga memetik pelajaran: kebenaran harus dibela dengan ikhlas dan berani, dengan strategi yang cerdas, dan bukan demi harta atau imbalan.

Membangun Tongkonan dan Kehidupan

Bersama istrinya, Lai’ Bulaan, Pong Sampun mendirikan tongkonan di Jl. Goali Bassi, Rukun Pasang, Lembang Saluallo, Kecamatan Sangalla Utara, Kabupaten Tana Toraja.

Di sekelilingnya, mereka membangun lingkungan yang menopang kehidupan: sawah dan tanah kering, sumur, kebun kombong, padang penggembalaan kerbau, tanah pantunuan, hingga liang (makam) tempat Pong Sampun dimakamkan.

Baca Juga  Daeng Uki Bakal Kembali Touring Wakaf Al-Quran Keliling Sulawesi Selatan

Tongkonan ini memiliki Tallu Baka atau Tallu Silolok, yaitu bida (keturunan), manarang (kepandaian), dan sugi’ (kekayaan), serta Tallu Lolona, yaitu Lolo Tau (manusia), Lolo Patuan (hewan), dan Lolo Tananan (tumbuhan).

Amanah yang Diteruskan

Dari generasi ke generasi, tongkonan ini dijaga bersama. Pemangkunya, To Urrambu Tongkonan, ditentukan melalui kada situru’ (kesepakatan bersama). Keluarga mengenang bagaimana Ne’ Boro’ menyerahkan amanah itu kepada Ne’ Tambing dan istrinya, Lai’ Sesa

Walaupun Ne’ Tambing adalah anak kedua, amanah itu diberikan kepadanya karena telah disepakati bersama.

Dalam buku Kada Disedan Sarung Ditoke’ Tambane Baka (Amanah dan Pesan Leluhur Toraja), Drs. Daniel Tulak menjelaskan bahwa pendiri tongkonan pada awalnya juga menjadi To Tumoke’ Buria’, yaitu orang yang memelihara tongkonan, bertanggung jawab ke dalam dan ke luar, serta tinggal di rumah tongkonan.

Sebelas Generasi Kemudian

Kini, keturunan Pong Sampun telah mencapai sebelas generasi. Banyak di antara mereka yang tinggal di kota lain, bahkan di perantauan, seperti leluhur mereka dahulu meninggalkan Tanamalia.

Namun, mereka tetap kembali ke tongkonan untuk mengenali asal-usul, bermusyawarah, dan merayakan ikatan keluarga.

Perjalanan yang dimulai dari Tanamalia itu belum berakhir. Ia terus berlanjut dalam langkah setiap keturunan Pong Sampun, ke mana pun mereka pergi.

Berani demi Kebenaran, Bukan demi Harta: Teladan dari Pendiri Tongkonan Kalolok

Di zaman ketika keberhasilan sering diukur dengan harta, kisah seorang leluhur Toraja mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita berjuang? Kisah itu datang dari Pong Sampun, pendiri Tongkonan Kalolok Pong Sampun di Lembang Saluallo, Sangalla Utara, Tana Toraja.

Kisah Sang Pendiri

Pong Sampun dikenal sebagai Pangngala Tondok, orang yang pertama kali membuka tanah di Kalolok setelah datang dari Tanamalia.

Bersama istrinya, Lai’ Bulaan, ia mendirikan tongkonan yang hingga kini dijaga oleh sebelas generasi keturunannya.

Keturunannya mewarisi sebuah kisah, seperti dituturkan oleh Ne’ Sattu (Ne’ Pala’) dan Sitti Mina. Dahulu, seorang bernama Lua’ Lindo (“muka lebar”) ma’ sumpi’ (meniup sumpit) ke arah Buntu Kaero dan mengenai anak Puang Buntu Kaero.
Sang Puang lalu mengadakan sayembara: siapa pun yang dapat mengalahkan Lua’ Lindo akan diberi kekayaan sesuai keinginannya.

Baca Juga  Dimatique Fine Wines Gelar Pameran Wine Terlengkap di Indonesia Bertajuk Dimatique World of Wine

Pong Sampun menyusun siasat dan berhasil memenangkan sayembara itu. Namun, ketika ditawari emas, sawah, dan berbagai harta, ia menolak.

Ia hanya memilih sebuah gandang (gendang), benda yang secara materi tidak bernilai besar, tetapi dalam budaya Toraja sarat makna adat, sosial, dan spiritual.

Teladan Pertama: Berjuang dengan Ikhlas

Pong Sampun tidak menghadapi Lua’ Lindo karena mengincar hadiah. Penolakannya terhadap emas dan sawah menunjukkan bahwa perjuangannya lahir dari keikhlasan.

Membela keadilan dan kebenaran, menurut teladan ini, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh keberanian, bukan setengah hati.

Teladan Kedua: Berani Sekaligus Cerdas

Keberanian Pong Sampun tidak membabi buta. Ia lebih dulu mencari cara dan menyusun siasat sebelum bertindak.

Pelajarannya jelas: perjuangan membela kebenaran membutuhkan taktik dan strategi. Niat baik perlu disertai cara yang tepat agar berhasil.

Teladan Ketiga: Bukan demi Imbalan

Inilah inti kisah gendang. Perjuangan yang benar didorong oleh semangat membela yang benar, bukan oleh keinginan mendapatkan harta atau imbalan. Ketika motivasinya adalah kebenaran, hadiah menjadi tidak penting.

Teladan yang Masih Dijaga

Nilai-nilai itu masih terasa di Tongkonan Kalolok Pong Sampun.

Tongkonan ini tidak dimiliki perorangan, tetapi menjadi warisan bersama seluruh keturunan.

Pemangkunya ditentukan melalui kada situru’ (kesepakatan bersama), bukan melalui perebutan.

Keluarga mengenang bagaimana Ne’ Boro’ menyerahkan amanah kepada anak keduanya, Ne’ Tambing, karena demikianlah yang disepakati bersama.

Keluarga berpegang pada ungkapan misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Teladan Pong Sampun tidak hanya milik keturunannya.

Siapa pun dapat belajar darinya: bahwa keberanian sejati adalah membela yang benar, dan kekayaan sejati adalah nilai yang kita wariskan, bukan harta yang kita kumpulkan. []

Opini: Dr. Lince Bulutoding, SE., M.Si., Ak., CA., PCIF., SAS,  Dosen Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Share :

Baca Juga

Komunitas

Melinda Aksa Hadiri Puncak HKG ke-53 dan Rakernas X PKK di Samarinda

Komunitas

JKOC Gelar City Tour Lagi, Puluhan Jeep Wrangler Bakal Keliling Kota Makassar

Komunitas

Januari 2024, Persatuan Golf Indonesia Sulsel Kirim Atlet Pelatihan ke Australia

Komunitas

Turun Kejalan, GAM Suarakan Tolak Keras Penundaan Pemilu.

Komunitas

NFT Bawa Pulang Juara MLDSpot Kejuaraan Nasional Slalom 2021 di Yogyakarta

Komunitas

Amir Bakriyadi Kukuhkan Pengurus Himpunan Lembaga Pelatihan Seluruh Indonesia NTB

Hiburan

Baju Fashion Show Fadliah Firman Penyumbang Lelang Tertinggi UMKM Pengrajin di Sulsel

Komunitas

Sasar Bulukumba, Andalan Mengaji Berbagi Mukenah dan Al-Qur’an di TPA, Masjid dan Pesantren