MERATA.NET – Investasi kini makin praktis. Fitur seperti auto-debit memungkinkan investor menyisihkan dana
secara otomatis sesuai jadwal, tanpa perlu melakukan transaksi setiap bulan.
Namun, kemudahan ini bukan berarti membuat investasi bisa ditinggalkan. Portofolio tetap perlu
dipantau dan dievaluasi secara berkala agar strategi investasi tetap sejalan dengan tujuan
finansial dan profil risiko. Prinsip ini dikenal sebagai set and don’t forget: investasi dibuat
otomatis, tetapi tetap dipantau.
“Investasi bukan sekadar konsistensi menyisihkan uang, tetapi juga memastikan dana yang
ditempatkan tetap relevan dengan tujuan finansial,” ujar Nyoman Sukmawati, Head of Wealth
Management Bank Jago.
Ada sejumlah alasan mengapa portofolio perlu ditinjau ulang, di antaranya tujuan keuangan
dapat berubah, kondisi pasar yang bergerak, dan profil risiko investor juga bisa ikut bergeser.
Para investor ritel tidak harus melakukan review setiap hari tetapi cukup memastikan tiga hal
berikut:
- Komposisi aset: Nilai aset bisa berubah sehingga komposisi portofolio ikut bergeser.
Lakukan rebalancing jika perlu agar alokasi tetap sesuai dengan strategi dan profil
risiko.
Sebagai contoh, seorang investor yang sebelumnya berstatus single mungkin memiliki
alokasi investasi yang lebih agresif. Setelah menikah, memiliki tanggungan, atau
mengalami perubahan kondisi keuangan, kebutuhan dan toleransi risikonya dapat
berubah. Dalam kondisi tersebut, investor dapat melakukan rebalancing agar alokasi
investasinya kembali sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan saat ini.
- Kinerja investasi: Jangan hanya melihat portofolio dari warna merah atau hijau.
Pertimbangkan periode investasi, kondisi pasar, dan benchmark sebelum mengambil
keputusan.
Misalnya sebuah reksa dana saham turun 8% dalam satu bulan, sementara benchmark
pada periode yang sama turun 10%. Artinya, meskipun nilai investasinya menurun,
kinerjanya relatif lebih baik dibandingkan benchmark.
- Tujuan penggunaan dana: Semakin dekat dana akan digunakan, semakin penting
mempertimbangkan kembali tingkat risikonya.
Misalnya, investor menargetkan Rp100 juta untuk uang muka rumah dalam tiga tahun.
Strategi yang digunakan pada awal periode belum tentu cocok ketika tenggat semakin
dekat. Penyesuaian diperlukan agar volatilitas pasar tidak mengganggu kebutuhan dana
yang sudah di depan mata.
Salah satu tantangan untuk melakukan review investasi adalah ketika aset tersebar di berbagai
platform. Investor perlu membuka beberapa aplikasi untuk melihat reksa dana, saham, maupun
aset investasi lainnya.
Di Aplikasi Jago, investor dapat melihat nilai total aset yang tersebar di seluruh platform
brokerage yang terdaftar di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam satu tampilan
melalui tampilan portofolio investasi yang terhubung dengan KSEI. Investor juga dapat melihat
dengan rinci aset apa saja yang dimiliki di masing-masing platform brokerage tersebut. Dengan
demikian, mereka dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai aset investasinya.
“Dengan melihat portofolio secara lebih menyeluruh, investor dapat lebih mudah memahami
bagaimana asetnya tersebar dan kemudian mengevaluasi apakah komposisinya masih sesuai
dengan tujuan finansial. Harapannya, investor tidak hanya konsisten berinvestasi, tetapi juga
semakin sadar bagaimana mereka menempatkan uang sesuai dengan tujuannya,” jelas
Nyoman Sukmawati.
Dengan pendekatan ini, Set and Don’t Forget bukan berarti mengatur investasi lalu benar-benar
melupakannya. Sebaliknya, investor tetap dapat memanfaatkan otomatisasi untuk membangun
konsistensi, sembari melakukan review secara berkala. (*)










